PSGA Bekali DGA 2026 Perkuat Kampus Responsif Gender

www.uinsuna.ac.id – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menyelenggarakan pembekalan intensif bagi Duta Gender dan Anak (DGA) 2026 selama tiga hari, 18–20 Mei 2026, di Op.Room Gedung Rektorat. 

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas dan kompetensi para duta dalam memahami isu gender, perlindungan anak, serta teknik fasilitasi penanganan kasus psikologis dan gender di lingkungan kampus.

Pembekalan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan DGA 2026 sebagai mitra strategis PSGA dalam membangun budaya kampus yang aman, inklusif, dan responsif gender. 

Untuk memastikan kualitas kompetensi peserta, PSGA menghadirkan sejumlah pakar dan akademisi lintas disiplin sebagai narasumber.

Kepala PSGA UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Nurul Hikmah, M.Pd., memberikan materi mengenai pengembangan karakter serta penguatan peran dan tanggung jawab Duta Gender dan Anak. Dalam kesempatan itu menyampaikan rasa bangga sekaligus harapan besar kepada delapan DGA 2026 yang baru dikukuhkan.

“Kalian bukan sekadar pajangan seremonial. Kalian adalah perpanjangan tangan, mata, dan telinga dari PSGA. Di era Gen-Z dan Alpha ini, pendekatan terhadap isu jender dan perlindungan anak harus dilakukan dengan cara-cara yang segar, persuasif, tanpa menghakimi, serta mampu menyentuh akar rumput mahasiswa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ia juga menegaskan bahwa para duta harus mampu memosisikan diri sebagai jembatan komunikasi bagi mahasiswa yang masih merasa takut untuk melaporkan atau menyuarakan pengalaman ketidakadilan seksual maupun perundungan (bullying).

“Harapan saya, DGA 2026 bisa melahirkan program kerja yang konkret di fakultas masing-masing. Jadilah tempat pulang yang aman bagi teman-teman kalian, jadilah pelopor kelas yang inklusif, dan bantulah kampus ini merawat lingkungan akademik yang sehat. Selamat bertugas, fondasi mental masa depan kampus ini ada di tangan aksi nyata kita bersama,” tambahnya.

Materi lainnya disampaikan oleh Rahima Nurviani, M.Ed., yang memperdalam wawasan peserta mengenai perspektif kesetaraan dalam mewujudkan kampus responsif gender. 

Sementara itu, Baiquni Hasbi, Ph.D., mengulas secara mendalam metodologi analisis relasi kuasa dan transformasi otoritas menjadi ruang yang lebih manusiawi serta setara.

Tidak hanya menghadirkan akademisi, kegiatan pembekalan juga melibatkan Alumni DGA 2025. Kehadiran para alumni memberikan ruang berbagi pengalaman (best practice) yang berharga mengenai pelaksanaan program kerja, tantangan lapangan, serta strategi membangun komunikasi efektif selama masa pengabdian sebagai Duta Gender dan Anak.

Melalui karantina akademik ini, PSGA berharap DGA 2026 memiliki kesiapan mental, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai untuk menjalankan perannya sebagai agen edukasi, advokasi, dan pendampingan di lingkungan kampus. (HI)

Share this Post