Rektor UIN SUNA Lhokseumawe Apresiasi Diplomasi Keagamaan Menag di Italia, Serukan Perdamaian Dunia

www.uinsuna.ac.id - Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., membawa pesan perdamaian dan dialog lintas agama dalam forum internasional Sant’Egidio Meetings for Peace bertajuk Unarmed and Disarming Peace di Assisi, Italia, pada 25-27 Oktober 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia di tengah berbagai konflik dan krisis kemanusiaan global.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., mengapresiasi upaya tersebut. Menurutnya, diplomasi keagamaan memiliki peran penting dalam membangun dialog, memperkuat toleransi, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan untuk mewujudkan perdamaian.

“Diplomasi keagamaan memiliki peran strategis dalam membangun jembatan dialog di tengah keberagaman. Agama harus menjadi sumber inspirasi bagi perdamaian”, tegas Prof Danial

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menjadikan agama sebagai instrumen diplomasi untuk memperjuangkan perdamaian, kemanusiaan, dan kelestarian lingkungan.

“Saatnya kita menjadikan bahasa agama sebagai bahasa diplomasi untuk perdamaian, untuk kemanusiaan, dan juga untuk lingkungan,” ujar Nasaruddin dalam keterangan tertulis pada 26 Oktober 2026.

Menag juga menekankan bahwa dialog lintas agama tidak cukup berhenti pada kesepakatan formal, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya akan membawa pesan bahwa dialog lintas agama tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen kesepakatan di atas kertas, melainkan harus ditransformasikan menjadi aksi kemanusiaan yang nyata,” katanya.

Forum yang diinisiasi Komunitas Sant’Egidio tersebut mempertemukan pemimpin agama, tokoh politik, budayawan, dan perwakilan masyarakat sipil dari berbagai negara untuk membahas upaya membangun perdamaian serta merespons persoalan kemanusiaan global.

Keikutsertaan Indonesia dalam forum ini juga melanjutkan semangat Deklarasi Istiqlal yang disepakati bersama Paus Fransiskus pada 2024, terutama dalam memperkuat persaudaraan kemanusiaan, dialog antaragama, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Prof Danial menilai, nilai-nilai perdamaian tersebut perlu diperkuat melalui dunia pendidikan. Perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki tanggung jawab untuk menanamkan moderasi beragama, sikap terbuka, dan penghormatan terhadap perbedaan kepada generasi muda.

Menurutnya, upaya membangun perdamaian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemimpin agama, tetapi juga membutuhkan keterlibatan lembaga pendidikan dan masyarakat luas.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi menjadi salah satu instrumen yang berdampak untuk  membangun generasi yang mampu merawat keberagaman serta menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk saling memahami. (AM)

Share this Post