Afirmasi Tiga Pilar Kemenag, Prof Danial: KBC Perisai Perlindungan Anak di Era Digital
www.uinsuna.ac.id - Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., menyambut positif gagasan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., terkait penguatan pelindungan anak di ruang digital melalui pendidikan yang ramah anak, cinta kemanusiaan, dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Menurut Prof. Danial, pandangan yang disampaikan Menteri Agama merupakan respons yang tepat terhadap berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital. Di tengah kemudahan akses informasi, anak-anak tidak hanya membutuhkan kemampuan literasi teknologi, tetapi juga fondasi karakter yang kuat agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
“Apa yang disampaikan Menteri Agama sangat relevan dengan kondisi saat ini. Teknologi memang membuka ruang belajar yang luas, tetapi tidak otomatis membentuk karakter. Yang menentukan arah pemanfaatan teknologi adalah nilai-nilai yang ditanamkan melalui pendidikan,” ujar Prof. Danial.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul rilis resmi Kementerian Agama RI terkait Rapat Koordinasi Pelindungan Anak di Ranah Dalam Jaringan yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di Jakarta, Senin (8/6/2026). Dalam forum tersebut, Menteri Agama menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk memperkuat pelindungan anak melalui tiga pilar utama, yakni pendidikan unggul dan ramah anak, cinta kemanusiaan, serta Kurikulum Berbasis Cinta.
Bagi Prof. Danial, gagasan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Lembaga pendidikan harus hadir sebagai ruang yang aman untuk membentuk kepribadian, menanamkan empati, dan membangun kesadaran moral peserta didik.
Ia menilai maraknya perundungan digital, ujaran kebencian, hingga berbagai bentuk kekerasan di ruang siber menjadi indikator bahwa penguatan karakter harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, pendekatan pendidikan yang mengedepankan nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap martabat manusia menjadi sangat penting.
“Pendidikan harus menjadi benteng moral generasi. Ketika anak-anak dibekali nilai kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama, mereka akan memiliki kemampuan untuk menyaring informasi serta menolak berbagai bentuk kekerasan maupun perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain,” katanya.
Prof. Danial juga menilai Kurikulum Berbasis Cinta yang diusung Kementerian Agama merupakan langkah strategis dalam memperkuat dimensi kemanusiaan dalam proses pendidikan. Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang menempatkan kasih sayang sebagai fondasi utama dalam membangun hubungan antarmanusia.
“Ketika cinta menjadi dasar pendidikan, maka peserta didik tidak hanya tumbuh sebagai pribadi yang cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kemampuan menghargai perbedaan, serta keberanian untuk melawan segala bentuk kekerasan. Inilah yang dibutuhkan generasi masa depan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Danial menegaskan bahwa pelindungan anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak semata. Keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah harus membangun sinergi untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Sebelumnya, sebagaimana dilansir dari laman resmi Kementerian Agama RI, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pelindungan anak merupakan syarat utama untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berdaya saing, dan berakhlak mulia. Menag juga menekankan bahwa tidak ada satu pun bentuk kekerasan yang dapat dibenarkan atas nama pendidikan, agama, tradisi, maupun kedudukan sosial.
Sejalan dengan pesan tersebut, Prof. Danial menegaskan bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga dan membimbing generasi muda. Menurutnya, pendidikan yang berlandaskan cinta, kemanusiaan, dan nilai-nilai keagamaan akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman dan beradab bagi anak-anak Indonesia. (AM)